Lagi, Perpusda Babar Gelar Bimtek SPP TIK Bagi Pengelola Perpusdes




MENTOK, DPK BABAR – Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Bangka Barat (Babar), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kembali menggelar bimbingan teknis (Bimtek) Strategi Pengembangan Perpustakaan, Teknologi, Komunikasi dan Informasi (SPP TIK) bagi pengelola Perpustakaan Desa (Pusdes) se-Babar.

Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Perpusda Bangka Barat tersebut berlangsung sejak 11-12 Agustus 2026.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Babar, Farouk Yohansyah menyampaikan, Bimtek SPP TIK dalam Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) merupakan langkah penting untuk meningkatkan kapasitas pengelola perpustakaan, khususnya dalam menghadirkan layanan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.


“Melalui Bimtek SPP-TIK TPBIS ini, kami ingin memastikan bahwa perpustakaan tidak hanya mampu menyediakan bahan bacaan, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi, komunikasi, dan informasi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas layanan dan memberdayakan masyarakat,” katanya.

“SPP-TIK bukan sekadar bagaimana perpustakaan menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi, komunikasi dan informasi tersebut digunakan untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan program yang memberikan dampak kepada masyarakat,” sambung Farouk.

Transformasi perpustakaan harus diikuti dengan perubahan cara pandang pengelola perpustakaan. Perpustakaan, jelas dia, tidak lagi cukup hanya berorientasi pada koleksi, tetapi harus mampu menjadi pusat pembelajaran, ruang kolaborasi, dan tempat masyarakat mengembangkan kapasitas diri.

“TPBIS menempatkan masyarakat sebagai subjek. Karena itu, perpustakaan harus memahami kebutuhan masyarakat dan kemudian menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata. Keberhasilan perpustakaan bukan hanya dilihat dari jumlah koleksi atau jumlah kunjungan, tetapi dari dampak yang dihasilkan terhadap masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, SPP-TIK juga menjadi instrumen penting dalam memperkuat keberlanjutan program TPBIS di Kabupaten Bangka Barat.

“Kami berharap peserta Bimtek dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh di perpustakaan masing-masing, termasuk dalam penyusunan program, pemanfaatan teknologi informasi, pengembangan layanan, serta membangun jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak,” ujar Farouk.

Penguatan perpustakaan merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia kabupaten Bangka Barat. Oleh karenanya perpustakaan adalah investasi pembangunan manusia. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap pengetahuan, informasi dan keterampilan, maka kita sedang membangun masyarakat yang lebih mandiri, produktif dan berdaya saing serta dapat meningkatkan kesejahteraan disinilah hakekat pentingnya penguatan fungsi perpustakaan.

Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DPK Babar, Eka Octawianto menambahkan, Bimtek SPP-TIK TPBIS menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan teknis pengelola perpustakaan dalam merancang layanan yang berbasis kebutuhan masyarakat.

Pengelola perpustakaan perlu memahami bahwa transformasi perpustakaan harus bergerak dari paradigma library as a place menuju library as a platform, yaitu perpustakaan sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, teknologi, komunitas, dan berbagai peluang pemberdayaan.

Oleh karena itu, menurutnya, kegiatan SPP-TIK bukan sekadar bagaimana perpustakaan menggunakan teknologi tetapi lebih dari itu  yaitu bagaimana teknologi, komunikasi dan informasi tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan program yang memberikan dampak kepada masyarakat untuk berkelanjutan.

“Perpustakaan harus menjadi ruang tumbuh masyarakat. Anak-anak dapat belajar, remaja mengembangkan kreativitas, masyarakat meningkatkan keterampilan, pelaku UMKM memperoleh informasi, dan komunitas dapat berkolaborasi. Semua itu dapat difasilitasi melalui perpustakaan,” lanjut Eka.

Penerapan SPP-TIK juga, dijelaskannya, perlu didukung dengan kemampuan pengelola dalam melakukan pemetaan kebutuhan masyarakat.

“Program perpustakaan harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. Jangan sampai kita membuat kegiatan hanya karena rutinitas. Kita perlu melihat siapa yang dilayani, apa kebutuhannya, potensi apa yang dimiliki masyarakat, dan bagaimana perpustakaan dapat menjadi bagian dari solusi,” ungkapnya.

“Di era digital menuntut perpustakaan untuk semakin adaptif. Literasi digital, literasi informasi, pemanfaatan media sosial, pengelolaan data, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan harus mulai menjadi bagian dari ekosistem layanan perpustakaan,” timpal Eka.

Bimtek tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi menghasilkan rencana aksi yang dapat diterapkan di masing-masing perpustakaan.

“Output yang kami harapkan bukan hanya peserta memahami materi, tetapi setelah kembali ke perpustakaan masing-masing mereka mampu menerjemahkannya menjadi program nyata. Dengan begitu, TPBIS tidak berhenti sebagai program, tetapi benar-benar menjadi gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.  Sehingga keberhasilan TPBIS pada akhirnya diukur dari perubahan yang terjadi di masyarakat,” katanya lagi.

Ketika perpustakaan mampu membuat masyarakat lebih terampil, lebih produktif, lebih percaya diri, lebih mampu memanfaatkan teknologi, dan memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi, maka, ditegaskannya, di situlah bisa dilihat bahwa transformasi perpustakaan benar-benar bekerja.

 

Penulis: ZL

Foto: ZL

Editor: Ahmad